ntvsatu.com, Ketapang, Kalbar – Suasana penuh kebersamaan dan nuansa budaya mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang digelar keluarga besar Ikkramat di Keraton Matan Tanjungpura, Rabu (4/3/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, sebagai bagian dari rangkaian semarak Ramadan 1447 Hijriah.
Kehadiran Bupati bersama rombongan disambut dengan penuh kehormatan oleh keluarga besar keraton melalui serangkaian prosesi adat kerajaan yang sarat makna budaya Melayu. Penyambutan diawali dengan atraksi Silat Kutemare yang memukau, diiringi pengalungan syal kerajaan sebagai simbol penghormatan kepada tamu kehormatan.
Suasana semakin sakral ketika prosesi adat dilanjutkan dengan dentuman Meriam Pusaka Padam Pelite, sebuah meriam bersejarah yang telah menjadi bagian dari tradisi Keraton Matan sejak ratusan tahun lalu. Dentuman meriam tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang penuh nilai historis dan spiritual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa restu, prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual Tepung Tawar, sebuah tradisi Melayu yang mengandung makna penyucian diri, keselamatan, serta harapan akan keberkahan bagi tamu yang dimuliakan.
Dalam sambutannya, Bupati Alexander Wilyo menyampaikan bahwa momen buka puasa bersama tersebut merupakan kesempatan istimewa untuk mempererat tali silaturahmi antara pemerintah daerah, keluarga besar Keraton Matan, serta seluruh elemen masyarakat.
“Bagi saya, tradisi Tepung Tawar ini bukan sekadar seremoni adat semata, tetapi merupakan warisan budaya Melayu yang sarat dengan makna. Di dalamnya terkandung doa keselamatan, harapan kebaikan, serta penghormatan kepada tamu yang dimuliakan,” ujar Bupati.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa Kabupaten Ketapang merupakan rumah besar bagi seluruh masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya. Ia menilai keberagaman tersebut sebagai kekuatan utama yang harus terus dijaga dan dirawat bersama.
“Sebagai pemimpin bagi seluruh masyarakat Ketapang tanpa membedakan suku dan agama, saya memandang keberagaman ini sebagai kekuatan besar yang menjadi fondasi persatuan dan keharmonisan daerah kita,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga dan melestarikan keberadaan Keraton Matan sebagai bagian dari identitas sejarah daerah. Menurutnya, keraton tidak hanya sekadar bangunan bersejarah, melainkan juga merupakan aset budaya yang sangat berharga bagi daerah maupun bangsa.
“Keraton Matan bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga aset negara dan daerah yang memiliki nilai budaya tinggi. Warisan luhur seperti ini perlu terus kita jaga agar nilai-nilai kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan menjadi kompas moral bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Salah satu momen yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah ketika Bupati Alexander Wilyo secara langsung menyulut Meriam Pusaka Padam Pelite menjelang waktu berbuka puasa. Tradisi penyulutan meriam ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari upaya melestarikan sejarah serta menjaga marwah budaya Keraton Matan.
Bupati mengaku merasa bangga dapat menjadi bagian dari tradisi tersebut, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah yang masih terjaga hingga saat ini.
Sementara itu, Dewan Mangku Ikkramat, Uti Royden Top, menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi di bulan suci Ramadan, tetapi juga sebagai upaya mempererat hubungan kekeluargaan antara keluarga besar Keraton Matan dengan pemerintah daerah.
“Kegiatan ini selain sebagai wadah silaturahmi, juga menjadi momentum untuk mempererat jalinan kekeluargaan antara keluarga Kerajaan Matan dengan Bupati serta seluruh masyarakat Ketapang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian budaya dan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh keluarga keraton, termasuk sepasang meriam pusaka yang dikenal sebagai meriam laki-laki dan perempuan yang hingga kini masih difungsikan dalam berbagai kegiatan adat.
Melalui sinergi yang terus terjalin antara pemerintah daerah dan lembaga adat, Bupati berharap Kabupaten Ketapang dapat terus berkembang menjadi daerah yang harmonis, damai, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan sejarah yang menjadi jati diri masyarakatnya.
“Dengan kebersamaan dan sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan seluruh masyarakat, kita berharap Ketapang akan terus tumbuh menjadi rumah yang nyaman, damai, dan penuh penghormatan terhadap akar sejarah serta budaya yang kita miliki bersama,” tutup Bupati.












